Subsidi BBM Dicabut, Siswi Penderita Asma Harus Berjalan 5 Km ke Sekolah

Duniamu.id – Kisah siswa pedesaan yang kesulitan untuk berangkat ke sekolah karena buruknya infrastruktur ternyata tak hanya terjadi di Indonesia.

Julie Hewitt  terpaksa harus melewati jalan berlumpur sejauh lebih dari lima kilometer untuk mengantar putrinya yang berusia sembilan tahun yang mengidap asma ke sekolah.

Julie yang tinggal di dekat kota Bodmin, Cornwall, Inggris terpaksa jalan kaki ke sekolah karena subsidi bahan bakar yang diterimanya dicabut pemerintah setempat.

Ibu empat anak ini sehari-hari bekerja mengelola peternakan milik keluarganya di kawasan tersebut.

Selama 10 tahun terakhir, Julie mendapatkan subsidi bahan bakar sebesar 3,50 poundsterling atau Rp 59.000 sehari untuk mengantar anak-anaknya ke sekolah.

Sesuai peraturan setempat, warga yang tinggal lebih dari lima kilometer dari sekolah memperoleh subsisi BBM untuk mengantar anak mereka ke sekolah.

Namun, tahun ini, dewan daerah Cornwall mencabut subsidi itu karena menganggap Connie, putri Julie, masih bisa berangkat ke sekolahnya dengan berjalan kaki.

“Musim panas lalu dewan daerah Cornwall mengirim surat yang mengabarkan penghentian subsisi BBM untuk mengantar Connie ke sekolah,” ujar Julie.

Julie mengatakan dia sudah menegaskan bahwa keluarganya tinggal lebih dari 5 kilometer dari sekolah.

“Namun, anggota dewan mengatakan bahwa sesuai peta terdapat jalan desa dan setapak yang jika dihitung berjarak kurang dari lima kilometer.

“Karena rutenya dianggap tak terlalu jauh maka Connie memutukan untuk jalan kaki sejauh 10 kilometer pulang pergi,” kata Julie.

Sayangnya, jalan pedesaan yang dianggap anggota dewan bisa dilalui itu ternyata merupakan jalan berlumpur tebal dan juga gelap.

“Di sepanjang jalan itu hanya terdapat empat buah lampu dan itu sangat berbahaya apalagi di saat hujan atau angin kencang,” tambah Julie.

“Apalagi, Connie menderita asma. Dewan malah meminta dokter memberikan surat resmi yang merinci sejauh mana Connie bisa berjalan kaki,” lanjut Julie.

Padahal, tambah Julie, putrinya itu bahkan tak mampu berjalan keluar kamarnya saat penyakitnya itu kambuh.

“Jadi memintanya berjalan kaki lebih dari 50 kaki sepekan di jalanan berlumpur dan gelap semacam itu sangat tak masuk akal,” kata Julie.

Julie menambahkan, keharusan dia menggunakan jalan tanah itu dilakukan tanpa didahului penelitian lapangan.

Akibatnya Julie berencana mengajak anggota dewan yang berasal dari daerahnya untuk berjalan-jalan di rute tersebut pada tahun baru mendatang.

loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*