Proyek Pembangunan Wisata di Taman Nasional Komodo Diklaim Patuhi Kaidah Konservasi

Liputan6.com, Jakarta – Sederet potret pembangunan sarana dan prasarana (sarpras) yang dilakukan di Lembah Loh Buaya Pulau Rinca Taman Nasional (TN) Komodo belakangan menarik perhatian. Proyek garapan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) ini dilaporkan telah mencapai 30 persen dari rencana yang akan selesai pada Juni 2021.

Berdasarkan keterangan resmi pada Liputan6.com, Selasa (27/10/2020), saat ini, penataan tengah memasuki tahap pembongkaran bangunan eksisting dan pembuangan puing, pembersihan pile cap, serta pembuatan tiang pancang.

Kegiatan penataan sarpras berlangsung di dermaga Loh Buaya, pengaman pantai, evelated deck, pusat informasi, serta pondok ranger, peneliti, juga pemandu ini berada di wilayah administrasi Desa Pasir Panjang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat.

Kegiatan pengangkutan material pembangunan di TN Komodo dijelaskan harus menggunakan alat berat karena tak memungkinkan menggunakan tenaga manusia. Penggunaan alat-alat berat, seperti truk, dnan ekskavator, diklaim telah dilakukan dengan prinsip kehati-hatian.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Wiratno, menjelaskan bahwa selama pandemi, pengunjung di Pulau Rinca dibatasi kurang lebih 150 orang per hari.

Hal ini dilakukan sebagai upaya menjaga kelestarian komodo, serta mencegah penyebaran COVID-19. Dalam rangka mendukung kerja penataan sarpras wisata alam, Balai TNK KLHK menutup sementara Resort Loh Buaya TNK terhitung 26 Oktober 2020 hingga 30 Juni 2021, dan akan dievaluasi setiap dua minggu sekali.

Progress pembangunan dikatakan akan diinformasikan petugas. Sementara, destinasi lain di TN Komodo, seperti Padar, Loh Liang, Pink Beach, dan sejumlah titik menyelam, seperti Karang Makasar, Batubolang, Siaba, dan Mawan, masih tetap dibuka.

2 dari 3 halaman

Praktik Pembangunan

Wiratno mengatakan, jumlah populasi komodo di Lembah Loh Buaya relatif stabil, bahkan meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2018 total ada 2.897 individu dan di 2019 bertambah 125 individu jadi 3.022.

Konsentrasi populasinya berada di Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Hanya sebanyak tujuh individu di Pulau Padar, 69 individu di Gili Motang, dan 91 individu di Nusa Kode.

TN Komodo sendiri tercatat memiliki label global, sebagai Cagar Biosfer (1977) dan Warisan Dunia (1991) oleh UNESCO, memiliki luas 173.300 Ha, terdiri dari 58.449 hektare (33,76 persen) daratan dan 114.801 hektare (66,24 persen) perairan.

Dari luas tersebut, ditetapkan Zona Pemanfaatan Wisata Daratan 824 hektare (0,4 persen) dan Zona Pemanfaatan Wisata Bahari 1.584 hektare (0,95 perse). Penetapan tersebut diklaim jadi dasar penentuan perencanaan ruang kelola di taman nasional tersebut.

Di samping, upaya meminimalisasi kontak satwa dengan aktivitas wisata dikatakan terus dilakukan. Saat ini, pemanfaatannya dinilai tak membahayakan populasi komodo di areal Lembah Loh Buaya, yakni seluas 500 hektare atau sekitar 2,5 persen dari total luas Pulau Rinca yang mencapai 20 ribu hektare.

“Guna menjamin keselamatan dan perlindungan terhadap komodo, termasuk para pekerja, seluruh aktivitas penataan sarpras diawasi 5–10 ranger setiap hari. Mereka secara intensif melakukan pemeriksaan keberadaan komodo, termasuk di kolong-kolong bangunan, bekas bangunan, dan di kolong truk pengangkut material,” jelas Wiratno.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *